Tikus got (Rattus norvegicus) merupakan salah satu anggota tikus-tikusan—dikenal sebagai Muridae—yang memiliki ciri tubuh diselimuti oleh rambut kasar berwarna abu-abu tua atau coklat di bagian belakang dan abu-abu muda atau coklat di bagian bawah. Tubuhnya berukuran sedang, dengan panjang total rata-rata 16 inci (40 cm), termasuk ekornya. Beratnya berkisar antara 200 hingga 500 gram. Umumnya, tikus jantan berukuran lebih besar daripada tikus betina

(Rattus norvegicus. Sumber: John Hitchmough)
Lahir dari benua terbesar di dunia, yaitu Asia, khususnya di Cina Utara atau Mongolia, tikus got secara invasif menjelajahi hampir di seluruh belahan dunia. Sebagai hewan yang lincah, tikus got memiliki kemampuan adaptasi di daerah beriklim sedang, sedangkan pada daerah yang memiliki musim dingin ekstrim, mereka akan bermukim di rumah-rumah penduduk. Tidak hanya di got, Tikus juga hidup di pekarangan rumah, ruang bawah tanah, tempat pembuangan akhir, bahkan atap gedung pencakar langit. Meskipun hidup di sekitar dan di antara kita, mereka hanya akan beraktivitas saat fajar, senja, dan malam hari, atau ketika rumah-rumah ditinggalkan penghuninya.
Tikus got menggerogoti apapun yang dijumpainya secara agresif, mulai dari udang, siput, serangga, amfibi, ikan, ayam, burung, bangkai, biji-bijian, tanaman, sisa makanan manusia, bangkai, sampah organik, bahkan benda tak lazim sekalipun—kayu, plastik, bahkan batu bata. Oleh karenanya, tikus got juga dijuluki sebagai omnivora rakus.
Namun, si hewan rakus ini ternyata berarti, karena memiliki peran dalam menjaga kelangsungan hidup makhluk lain.
- Penjaga Keseimbangan Ekologi dan Dekomposer Alami
Perilaku makan yang tidak terkontrol dan sangat oportunistik ini secara tidak langsung membantu kelangsungan hidup dengan menjaga keseimbangan ekologi dan siklus nutrisi di lingkungan. Sebagai pelaku ekosistem “pemulung”, tikus got berperan dalam menguraikan sisa makanan yang ditemukan di lingkungannya3. Dengan aktivitas ini, mereka membantu mencegah penumpukan limbah organik yang membuka gerbang ketidakseimbangan ekologi. Dengan memakan sisa makanan, bangkai, dan sampah organik, tikus got berkontribusi terhadap proses dekomposisi alami. Nutrisi didaur ulang kembali ke lingkungan, aktivitas mikroba kembali, dan kesuburan tanah meningkat, menciptakan ekosistem yang lebih seimbang dan mendukung pertumbuhan vegetasi.
- Indikator Epidemiologi
Sebagai hewan yang secara masif menyusuri lingkungan perkotaan, tikus got memainkan peran positif dalam mempelajari/studi epidemiologi, karena berperan sebagai agen zoonosis, seperti Capillaria hepatica dan Taenia taeniaeformis. Meskipun terdengar kontradiktif, keberadaan tikus ini di lingkungan perkotaan membantu ilmuwan dan ahli kesehatan mempelajari dinamika penularan penyakit, yang pada akhirnya menjadi acuan dari strategi kesehatan masyarakat untuk pengendalian dan pencegahan penyakit4.
- Subjek Uji Laboratorium
Adanya intervensi manusia membuat tikus got yang semula liar, akhirnya didomestikasi. Proses ini diperkirakan dimulai pada abad ke-19, sebagai akibat dari sebuah olahraga brutal berkedok judi bernama rat baiting, yang mengorbankan puluhan tikus untuk di lepas di area tertutup berisi anjing-anjing galak. Dalam praktik ini, tikus albino yang jarang ditemukan dan tertangkap selama perburuan ini dipajang di luar tempat perjudian yang kemudian memicu upaya pembiakan selektif untuk mempertahankan karakteristik uniknya. Tikus got domestikasi kemudian digunakan untuk kemajuan ilmiah dan kegunaan praktis sebagai subjek uji studi biokimia, fisiologi, dan perilaku. Tikus berjenis Rattus norvegicus domestica ini pertama kali digunakan pada tahun 1895 di laboratorium studi nutrisi di Universitas Clark di Worcester, MA. Penggunaan tikus got domestikasi sebagai subjek uji meningkat pada awal abad ke-20. Pada tahun 1930 hingga 1940-an, sebanyak 60% artikel ilmiah yang dipublikasi menggunakan hewan tersebut sebagai subjek uji. Seiring meningkatnya kebutuhan model penelitian yang lebih representatif dalam studi ilmiah, domestikasi tikus got terus berkembang, menjadikan spesies ini sebagai salah satu hewan laboratorium paling berpengaruh dalam dunia sains5.
- Hewan Peliharaan
Selain kegunaannya dalam penelitian, tikus got domestikasi juga mulai digemari oleh pecinta hewan eksotik sebagai peliharaan. Tikus yang digunakan sama dengan tikus laboratorium, tetapi memiliki corak tubuh yang lebih beragam6.

(Rattus norvegicus domestica. Sumber: Vladimír Motyčka via https://www.biolib.cz/en/image/id97984/)
Sifatnya lebih jinak dibandingkan dengan kerabat liarnya, serta tidak dianggap sebagai ancaman penyakit7. Layaknya hewan peliharaan pada umumnya, tikus got peliharaan juga memerlukan perlakuan khusus.
Dari makhluk liar yang sering dianggap hama, menjadi sahabat sejati manusia. Dahulu diburu dan dijauhi, kini mereka memainkan peran penting dalam aspek kehidupan dan ilmu pengetahuan. Transformasi ini menunjukkan bagaimana interaksi manusia dapat mengubah persepsi terhadap suatu spesies.
Penulis: Raturania Shahla Qitarah