Jatinangor, 9 Mei 2025 — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjadjaran mengadakan kuliah tamu bertajuk “Tackling Invasive Species: A Case Study from the Field” yang berlangsung di ruang Einstein, Gedung Dekanat FMIPA. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Dr. Mohd. Faizal Ahmad Komaroddin, seorang peneliti di bidang lingkungan dan bioteknologi dan Dr.rer.nat. Tri Dewi Kusumaningrum Pribadi, M.Si sebagai moderator.

Mikroalga: Solusi Masa Depan
Dalam sesi pengantar, Dr. Faizal menekankan potensi besar mikroalga sebagai solusi bioteknologi masa depan. Mikroalga diketahui mampu menyerap karbondioksida dari udara dan mengubahnya menjadi biofuel—suatu inovasi penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Proyek pemanfaatan mikroalga ini tengah dikembangkan di UTM dan membuka kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk bergabung dalam program riset dan pengabdian masyarakat di kampus tersebut.


Ia juga menyinggung fenomena alga blooming yang kerap terjadi di wilayah pantai, namun kini juga ditemukan di perairan tawar seperti danau. Penyebabnya adalah tingginya kandungan nutrien yang terbawa dari area pertanian sekitar, terutama saat musim hujan. Efek dari blooming ini tidak hanya mengganggu ekosistem, tetapi juga membuat zoobenthos (hewan dasar perairan) menjadi toksik dan berbahaya untuk dikonsumsi.
Inovasi Pemisahan Alga
Sebagai solusi, dikembangkan metode pemisahan alga dengan pendekatan ramah lingkungan. Alga ditarik ke dalam media koagulan, lalu digunakan jamur tempe (Rhizopus spp.) untuk membantu penggumpalan biomassa alga. Setelah itu, alga yang terkumpul dapat disaring menggunakan penyaring kasar untuk kemudian diolah menjadi biofuel. Teknik ini terbukti lebih hemat biaya dan efisien dibanding metode kimia konvensional.

Kasus nyata juga dipaparkan, seperti penyebaran Hydrilla, tumbuhan air non-native yang mudah blooming dan mengganggu kestabilan danau. Dalam studi lapangan, salah satu danau bahkan sempat dikeringkan untuk menelusuri spesies invasif penyebab blooming. Setelah pembersihan, danau tersebut diisi ulang dan dihidupkan kembali dengan spesies asli (native) sebagai bentuk pemulihan ekosistem.
Ancaman Spesies Invasif di Perairan
Masuk ke bagian inti materi, Dr. Faizal menjelaskan bahwa spesies invasif adalah spesies asing yang tidak berasal dari lingkungan asli namun mampu bertahan hidup dan mengganggu spesies lokal. Dampak yang ditimbulkan bisa mencakup perubahan rantai makanan, kerusakan ekosistem, dan bahkan bencana ekologis.


Beberapa contoh spesies invasif yang disebutkan termasuk ikan baung ekor merah dan ikan bandaraya. Ikan bandaraya diketahui sebagai spesies invasif berbahaya karena menggali lubang untuk bertelur di tebing atau bendungan, sehingga berisiko menyebabkan banjir. Selain itu, ikan ini juga memakan ikan kecil lokal dan belum ditemukan predator alami lokal yang mampu mengendalikan populasinya.
Sebagai langkah kreatif, masyarakat diajak untuk ikut serta dalam event memancing massal spesies invasif. Ikan-ikan yang tertangkap kemudian tidak dibuang, melainkan diolah menjadi produk bermanfaat seperti pupuk kompos atau pakan untuk ikan dan kucing.
Sesi Tanya Jawab: Peran Mahasiswa dan Upaya Pencegahan
Dalam sesi diskusi, peserta menanyakan bagaimana cara mencegah masuknya spesies invasif. Dr. Faizal menjelaskan bahwa meskipun ada regulasi yang mengatur, realitanya sulit menghalau masuknya spesies asing, terutama melalui aktivitas manusia seperti pelayaran, perdagangan, atau pelepasan satwa secara sembarangan.

Terkait peran mahasiswa, ia menekankan pentingnya edukasi dan penyebaran informasi. Mahasiswa dapat berkontribusi melalui kampanye lingkungan, sosialisasi kepada masyarakat, dan membangun kesadaran agar tidak melepas spesies asing ke lingkungan bebas. Langkah kecil seperti ini dapat menjadi bagian penting dalam mengatasi dampak perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan ekosistem.
“Minimal, jangan melakukan hal-hal yang dapat merusak ekosistem. Edukasi dan tindakan kecil bisa memberikan dampak besar jika dilakukan bersama,” ujar Dr. Faizal menutup sesi kuliah.
Kuliah tamu ini memberikan wawasan menyeluruh tentang tantangan ekologi yang sering tidak terlihat, namun berdampak besar. Mahasiswa FMIPA UNPAD diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem di tengah ancaman spesies invasif dan krisis iklim global.



Penulis: Rahmat Hibatul Hadi
Dokumentasi: Haykal Avisenna Fachruddin