Dalam kalender Hijriah, setiap tanggal 10 Dzulhijjah jutaan umat Muslim di seluruh dunia merayakan satu dari dua hari raya umat islam yaitu Idul Adha. Dalam perayaannya, umat Muslim melakukan ibadah penyembelihan hewan kurban—sapi, domba/kambing, dan unta— yang disebut ibadah Qurban sebagai wujud ketaatan sekaligus solidaritas sosial. Namun balik dimensi ibadahnya, ternyata ketiga hewan kurban ini juga memiliki sisi biologis yang menarik untuk dikaji, mulai dari adaptasi fisiologis, kandungan nutrisi, hingga efisiensi ekologis yang ternyata selaras dengan prinsip syariah.
1. Keunggulan Sebagai Ruminansia Efisien
Sapi, domba, dan unta sama-sama termasuk ruminansia, yakni hewan pemamah biak dengan empat ruang lambung (rumen, retikulum, omasum, abomasum). Struktur khusus ini, bersama mikroorganisme pendukungnya, memungkinkan mereka mengubah serat tanaman yang sulit dicerna manusia menjadi protein hewani berkualitas tinggi.
2. Digestibilitas & Adaptasi Lingkungan
Dalam studi pakan berserat tinggi seperti jerami gandum, unta menunjukkan kemampuan mencerna serat (Neutral Detergent Fiber/NDF) lebih baik dan waktu tinggal rumen lebih lama dibandingkan domba. Hal ini menandakan bahwa unta lebih efisien dalam memanfaatkan pakan kering khas daerah semi-arid . Keunggulan ini sangat penting untuk peternak di wilayah gurun, memastikan ketersediaan hewan kurban tanpa beban pakan yang berlebihan.
3. Profil Gizi dan Mutu Daging
- Lipid & Asam Lemak. Studi lipidomik mengungkap daging unta memiliki kandungan lemak jenuh (Saturated Fatty Acid/SFA) terendah dan asam oleat (Monounsaturated Fatty Acid/MUFA) tertinggi dibanding sapi dan domba berlemak—menunjukkan potensi manfaat kesehatan .
- Stabilitas Daging Saat Penyimpanan. Penelitian selama 9 hari penyimpanan dingin menemukan daging unta paling rentan mengalami oksidasi lipid, sedangkan sapi lebih stabil; faktor ini penting untuk pengelolaan rantai dingin pasca kurban .
- Kandungan Makro dan Mikro Nutrien. Studi di Kebridehar, Ethiopia melaporkan bahwa:
- Unta memiliki pH tertinggi dan kadar lemak sekitar 6,5%, kaya natrium, selenium, dan tembaga.
- Sapi menunjukkan kelembapan tertinggi.
- Kambing memiliki protein tertinggi dan kandungan zat besi yang signifikan .
- Perbandingan Klasik. Literatur gizi daging menegaskan daging unta lebih rendah kolesterol (sekitar 61 mg/100 g) dibandingkan sapi dan domba, dengan kandungan protein setara.
4. Landasan Syariah
Al-Qur’an secara eksplisit menetapkan hewan kurban dari kelompok bahīmat al-an‘ām (ternak ruminansia), yakni unta, sapi, dan kambing/domba (QS Al-Hajj : 34). Ayat tersebut menyampaikan pesan penting:
“Dan bagi tiap-tiap umat, Kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang telah diberikan-Nya kepada mereka; maka hendaklah kalian menyembelihnya dan hendaklah kalian melihatnya dengan penuh rasa taqwa.”
Artinya, penyembelihan hewan kurban bukan semata ritual formalitas, melainkan ibadah yang sarat makna syukur dan ketundukan kepada Sang Pencipta atas nikmat rezeki yang diberikan.
Nabi Muhammad SAW juga mencontohkan ketiga spesies ini sebagai hewan kurban, sekaligus menetapkan batasan praktis agar ibadah kurban dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat — dari domba yang mudah dimiliki individu hingga unta yang biasanya disembelih secara kolektif. Ini menunjukkan hikmah syariat dalam mengatur keseimbangan antara nilai spiritual, sosial, dan praktis.
5. Sinergi Sains dan Syariah
Ketika ilmu pengetahuan mengungkap manfaat gizi dan efisiensi biologis hewan-hewan ini, hal itu justru menguatkan kebijaksanaan syariah. Hewan kurban:
- Aman dikonsumsi dan kaya nutrisi.
- Dapat dipelihara secara berkelanjutan dengan pakan non-kompetitif bagi manusia.
- Mudah diperiksa kesehatannya sehingga risiko zoonosis minim.
Dengan demikian, ibadah kurban bukan hanya ritual, tapi juga praktik berlandaskan ilmu yang memadukan kesejahteraan hewan, kesehatan manusia, dan ketahanan pangan.
Memahami aspek biologi hewan kurban memberi perspektif baru bahwasanya berkurban adalah perayaan harmonisasi antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Saat takbir menggema dan pisau diasah, kita juga merayakan keajaiban fisiologis ruminansia yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan gizi umat manusia—sebuah sinergi indah antara ilmu dan iman.
Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Hajj (22): 34. Teks & tafsir, NU Online.
- Khattab I. M. dkk. (2021). “Comparative Digestibility and Rumen Fermentation of Camels and Sheep Fed Different Forage Sources.” Animal Biotechnology 34 (3): 609-618.
- Manheem, K. dkk. (2023). “A Comparative Study on Changes in Protein, Lipid and Meat-Quality Attributes of Camel Meat, Beef and Sheep Meat During Refrigerated Storage.” Animals 13 (5): 904.
- Saxena, D.C. & Jan, K. “Composition & Nutritive Value of Meat from Different Sources.” E-Textbook, INFLIBNET, diakses 6 Juni 2025.
- University of Minnesota Extension. (2021). “The Ruminant Digestive System,”.
- Wali M. A. dkk. (2025). “Nutritional and Chemical Characterization of Cow, Camel, and Goat Meat from Kebridehar, Ethiopia.” RSC Advances 15: 7617-7629.
- Zhang Y. dkk. (2023). “Lipid Analysis of Meat from Camelus bactrianus, Beef, and Fat-Tailed Sheep Using UPLC-Q-TOF/MS Based Lipidomics.” Frontiers in Nutrition.
Penulis: Rahmat Hibatul Hadi