Mahasiswa biologi magang di Pertamina — itulah yang dibuktikan Muhammad Nur Fitriansyah ketika memulai semester enam dan ia mendapat telepon yang mengonfirmasi penempatannya di Fuel Terminal, fasilitas distribusi dan penampungan bahan bakar minyak milik PT Pertamina Patra Niaga. Seorang mahasiswa biologi, kini berdiri di tengah area operasional industri energi terbesar di Indonesia.

Kabar itu bukan hal yang ia bayangkan sejak awal kuliah. Justru sebaliknya. “Fakta pertama yang langsung saya terima waktu masuk biologi adalah jurusan ini susah cari kerja,” tutur Fitra, sapaan akrabnya. Kalimat itu bukan keluhan. Bagi pemuda kelahiran Badung, Bali, 25 November 2004 ini, pernyataan tersebut adalah titik awal dari sebuah strategi panjang.
Stigma soal prospek kerja jurusan biologi memang bukan isapan jempol. Banyak mahasiswa baru merasakannya sejak orientasi pertama. Namun Fitra memilih reaksi yang berbeda, ia tidak meratapi kondisi itu, melainkan langsung memetakan jalan keluar.
Membangun Rekam Jejak Sebelum Lulus
Fitra menyadari satu hal sejak awal nilai di transkrip saja tidak cukup untuk membawanya sampai ke titik yang ia inginkan. Ada dorongan dalam dirinya untuk membuktikan bahwa ia mampu melangkah lebih jauh dari ekspektasi orang-orang. Ia membutuhkan rekam jejak yang berbicara lebih keras, maka ia mulai membangun portofolio prestasi secara konsisten.


Pada 2026, ia meraih posisi Juara Harapan 1 Mahasiswa Berprestasi FMIPA Unpad melewati seleksi bertahap dari tingkat program studi hingga fakultas. Tak habis di sana, Fitra menjadi Awardee dari Beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) dan di panggung internasional, ia masuk sebagai Top Finalist Harvard Health System Innovation Lab Hackathon 2026, ajang inovasi bergengsi yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Ia juga meraih Juara 2 UNIDROIT International Essay Competition 2025 di Italia. Di luar kompetisi akademik, ia menjabat sebagai Student Ambassador Maybank Indonesia 2026 dan Student Ambassador International Astronomy and Astrophysics Competition (IAAC) 2026 dan ia juga aktif di organisasi, salah satu pencapaiannya adalah menjabat sebagai Ketua DPA.
Proses menuju Mawapres sendiri menguji batas kemampuannya. Ia hanya punya waktu empat hari untuk menyiapkan paper ilmiah, presentasi berbahasa Inggris, desain, dan prototipe inovasi. Sementara di saat yang bersamaan ia tengah menjalani magang.
Di Pertamina, Dunia Kerja Tidak Mengenal Menye-menye
Keputusan memilih Pertamina sebagai tempat magang bukan tanpa alasan. Fitra sudah menetapkan arah kariernya sejak semester empat menjadi spesialis pada bidang environmental sustainability dengan fokus pada industri minyak dan gas dengan Pertamina sebagai pilihan logisnya.

Prestasi internasional dan perjalanannya sebagai salah satu Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) FMIPA Unpad 2026 menjadi bukti nyata kapasitasnya. Ia menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan dan kapasitas diri di atas rata-rata. Deretan portofolio inilah yang memperkuat CV-nya hingga mampu bersaing di industri energi nasional. Saat magang di Pertamina, pertamina menempatkannya di divisi HSE (Health, Safety, and Environment unit) yang bertugas memantau aspek keselamatan kerja dan pengelolaan lingkungan di area operasional. Secara garis besar, perannya sesuai dengan passion-nya. Namun secara teknis, realitanya jauh dari ekspektasi seorang mahasiswa biologi.
Proyek pertamanya merancang sistem saluran drainase untuk tangki timbun BBM menggunakan perangkat lunak teknik sipil yang sama sekali belum pernah ia pelajari sebelumnya. Berbekal mentalitas “pembelajar otodidak” yang ia asah sejak SMA, Fitra hanya butuh dua hari untuk menguasai tools-nya, lalu terjun langsung ke lapangan untuk survei, inspeksi, dan sekaligus menyelesaikan desain tersebut secara mandiri. “Cukup shock memang tapi ternyata bisa juga,” katanya.
Pelajaran terbesar yang ia bawa pulang bukan soal teknis. “Di lingkungan kerja yang cukup cepat, perlu adaptasi yg cepat juga dan kalau sedikit saja manja, pekerjaan tidak akan selesai,” kata Fitra. Adaptasi cepat, manajemen proyek, dan komunikasi yang baik. Tiga hal itu ia sebut sebagai bekal yang tidak pernah diajarkan di dalam kelas.
Lebih Banyak Gagal daripada Menang
Di balik deretan banyaknya prestasi itu, Fitra tidak menampik bahwa kegagalan jauh lebih banyak dari kemenangannya. Saat SMA di Bali, ia belajar hampir sepenuhnya secara otodidak. Tidak ada komunitas kompetisi yang solid, tidak ada mentor berpengalaman. Jika dianalogikan dari sepuluh lomba yang ia ikuti, hanya satu yang berbuah kemenangan.
Keterbatasan fasilitas dan akses informasi di sekolahnya menjadi tantangan nyata. Tapi justru dari situlah mentalnya terbentuk. Filosofi hidupnya sederhana bagi Fitra, hidup adalah soal melakukan, melihat hasilnya, dan mengevaluasi. Buku Masih Belajar karya Iman Usman selalu menemaninya sampai di titik ini.
Fitra juga sudah menetapkan langkah berikutnya dengan cukup jelas. Ia ingin melanjutkan studi S2 di bidang Teknik Lingkungan, dengan Belanda sebagai destinasi yang ia idamkan. Inspirasinya datang dari Belva Devara, pendiri Ruangguru, yang ia kagumi bukan hanya karena kesuksesan bisnisnya, melainkan karena perjalanan akademiknya yang konsisten dan penuh perjuangan sampai ia mendirikan perusahaan startup tersebut. Dalam jangka panjang, ia ingin menjadi spesialis lingkungan yang relevan di dunia industri.
“Lingkungan itu dibutuhkan secara alamiah. Tidak mungkin ada yang merusak lingkungan tanpa ada upaya memperbaikinya. Dan saya melihat bidang ini sebagai panggilan dari diri saya,”
Tiga Pesan Fitra untuk Mahasiswa Baru
Kepada adik-adik tingkat, Fitra menitipkan tiga hal. Pertama, tentukan arah karier sedini mungkin, jangan tunggu semester akhir untuk mulai berpikir mau jadi apa. Kedua, putuskan sejak awal ingin menjadi generalis atau spesialis, karena di Indonesia, kedalaman keahlian di satu bidang lebih mudah mengantarkan seseorang ke posisi yang ia butuhkan. Ketiga, jangan ragu mengikuti Mawapres. “Meskipun tidak meraih juara satu, kamu tetap akan belajar banyak hal dan membuka banyak pintu baru,” ujarnya. Di akhir obrolan, Fitra menutup ceritanya dengan satu prinsip yang selalu ia pegang hingga sekarang dari buku kesayangannya itu.
“Tidak peduli mau seberapa besar kegagalan kamu, kalau kamu sudah coba, artinya kamu sudah oke.”
Dari Badung ke Jatinangor, dari laboratorium ke Fuel Terminal Pertamina, perjalanan Fitra membuktikan satu hal keterbatasan hanya sebesar yang kita percaya. Bagi Fitra, setiap pencapaian yang ia raih hari ini bukan sekadar tentang prestasi, tetapi juga tentang membuktikan bahwa keterbatasan dan pandangan orang lain tidak bisa menentukan masa depannya.
Penulis: Khayra Umanazeeya Fahmi
[email protected]
Editor: Nabiha Fatnunnisa