Sabtu, 8 Maret 2025 – Himpunan Mahasiswa Biologi (Himbio) Unpad melalui Bidang Riset dan Keilmuan menggelar kegiatan diskusi lingkungan bertajuk SALAM (Suara Alam). Pada edisi perdana atau Chapter 1 tahun ini, isu yang diangkat sangat krusial dan relevan: “Kicauan Terakhir: Perdagangan Ilegal Burung Kicau dan Paruh Bengkok.” Kegiatan ini dilangsungkan secara luring di Gedung PPBS B Universitas Padjadjaran.

Acara dibuka dengan penuh khidmat melalui pembacaan tilawah, dilanjutkan sambutan oleh Ketua Himpunan serta Ketua Pelaksana Kegiatan. Kegiatan inti diisi oleh pemaparan materi dari narasumber utama, Teh Mutiara Salsabila Irawan, S.Si, seorang lulusan Biologi Unpad dan sekarang praktisi yang aktif dalam isu konservasi satwa liar.
Dalam pemaparannya, Teh Mutiara menyoroti posisi Indonesia sebagai negara dengan biodiversitas keempat terbesar di dunia, dengan burung sebagai salah satu kelompok fauna yang sangat penting baik secara ekologis maupun kultural. Sayangnya, tingginya permintaan pasar serta maraknya budaya memelihara burung kicau telah memicu lonjakan perdagangan ilegal yang membahayakan kelestarian berbagai spesies burung, khususnya burung kicau dan burung paruh bengkok.

Ia menjelaskan secara rinci rantai perdagangan ilegal yang bermula dari perburuan liar menggunakan alat seperti jaring, getah, hingga perangkap sarang, kemudian dijual kepada pengepul lokal, diteruskan ke bandar, dan akhirnya dijajakan di pasar burung, platform e-commerce, hingga media sosial, sebelum sampai ke tangan konsumen.
Dampak dari praktik ini sangat mengkhawatirkan, mulai dari ancaman kepunahan spesies, hingga kekacauan ekosistem, seperti meningkatnya populasi ulat akibat hilangnya burung pemangsa alami. Kondisi di Pulau Jawa dan Sumatera juga turut dikaji dalam konteks distribusi dan migrasi burung yang terganggu. Selain itu, isu kesehatan publik juga menjadi perhatian, dengan munculnya risiko penularan penyakit seperti avian influenza (flu burung) dan demam burung beo.
Diskusi ditutup dengan sesi debat interaktif yang membahas pro dan kontra terhadap penguatan hukum konservasi, khususnya dalam menangani perburuan dan perdagangan ilegal burung di Indonesia. Para peserta saling bertukar argumen mengenai efektivitas kebijakan yang ada dan pentingnya pendekatan yang lebih manusiawi serta edukatif dalam konservasi.


Salah satu highlight dari diskusi ini adalah kisah inspiratif dari mantan pemburu burung yang kini aktif dalam upaya konservasi melalui inisiatif seperti desa ramah burung dan desa ramah lingkungan. Kisah-kisah itu menunjukkan bahwa perubahan itu sangat mungkin terjadi jika didukung oleh kesadaran komunal dan edukasi.
“Salah satu desa ramah burung yaitu Desa Jatimulyo di Jawa Tengah yang mana dahulunya warga di sana merupakan pemburu burung. Namun kini mereka sudah bertaubat dan justru membangun desa yang peduli dengan melestarikan burung-burung di sana” Ucap Teh Mutiara
Sebagai penutup, peserta diajak menuliskan kesimpulan dan refleksi pribadi di atas kertas sticky notes, yang kemudian ditempelkan sebagai bentuk komitmen kolektif untuk lebih peduli terhadap isu konservasi burung di Indonesia.


SALAM Chapter 1 menjadi langkah awal yang kuat untuk membangun kesadaran ekologis mahasiswa terhadap ancaman nyata yang dihadapi dlora dan fauna khususnya di Indonesia. Diharapkan melalui kegiatan ini, Himbio Unpad terus menjadi wadah edukatif yang menggugah kepedulian dan aksi nyata dalam melestarikan alam Indonesia.
Penulis: Rahmat Hibatul Hadi
Dokumentasi: Haykal Avisenna Fachruddin