Pada hari Kamis, 5 Desember 2024, sebanyak enam mahasiswa Etnobiologi dari Program Magister Biologi FMIPA Universitas Padjadjaran (Unpad) melakukan kuliah lapangan ke kawasan adat Kampung Naga, yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Kegiatan ini didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah, yaitu Dr. Budi Irawan, M.Si. dan Dr. Eneng Nunuz Rohmatullayaly, M.Si. Kuliah lapangan ini bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mahasiswa terkait kehidupan dan aktivitas masyarakat adat Kampung Naga, setelah sebelumnya mereka menerima materi teori di kelas.


Kegiatan ini dimulai dengan pertemuan bersama Kepala Lembaga Adat Kampung Naga, yang kemudian dilanjutkan dengan observasi dan wawancara bersama masyarakat adat, yang didampingi oleh pemandu setempat, Bapak Asep. Para mahasiswa mengamati berbagai aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat adat, serta meneliti bangunan rumah tradisional yang ada di kawasan tersebut.

Untuk memasuki Kampung Naga, pengunjung harus menuruni sekitar 400 anak tangga batu. Kampung Naga sendiri merupakan kawasan tanpa listrik, sehingga sebagian besar aktivitas masyarakat dilakukan pada siang hari. Bangunan di kawasan ini sebagian besar terbuat dari bambu dan kayu, dengan atap ijuk dari tanaman kawung. Terdapat 110 bangunan di kampung ini, termasuk rumah tinggal, lumbung padi (leuit), masjid, bale pertemuan, saung lisung untuk menumbuk padi, serta bale ageung yang digunakan untuk upacara adat.
Struktur bangunan rumah adat Kampung Naga memiliki dua pintu: pintu pertama digunakan sebagai ruang tamu dengan bahan utama kayu, sementara pintu kedua menuju dapur yang terbuat dari bambu. Dinding ruang dapur dihiasi dengan anyaman bambu jenis awi tali, sementara lantainya terbuat dari palupuh bambu awi surat, dua jenis bambu yang banyak ditemukan di kawasan ini.

Selama observasi, para mahasiswa juga menyaksikan aktivitas masyarakat yang sedang menumbuk padi di saung, yang terletak di atas kolam ikan. Proses pemisahan beras dari gabah ini memanfaatkan konsep zero waste, karena kulit beras yang tercecer akan jatuh langsung ke kolam dan menjadi makanan bagi ikan-ikan di sana. Selain itu, beberapa warga juga terlihat membuat perabot rumah tangga dari bambu, seperti boboko, nyiru, ayakan, dan gelas bambu.
Kampung Naga dibagi menjadi tiga kawasan: kawasan suci (hutan keramat), kawasan bersih (pemukiman), dan kawasan kotor (sisi pemukiman, sawah, dan kebun campuran). Masyarakat adat Kampung Naga memegang prinsip hidup sederhana dengan memanfaatkan alam sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidup secara secukupnya. Meskipun mereka diperbolehkan untuk menempuh pendidikan formal, setiap individu yang kembali ke Kampung Naga wajib mengikuti aturan adat istiadat yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.
Kuliah lapangan ini memberikan wawasan berharga bagi mahasiswa Magister Biologi Unpad tentang bagaimana masyarakat adat dapat menjaga keseimbangan dengan alam sekaligus melestarikan budaya dan tradisi mereka. Keberlanjutan dan prinsip hidup yang harmonis dengan alam menjadi pelajaran penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, serta memberikan perspektif baru dalam studi ekowisata dan biologi konservasi.
Penulis: Thomas Argyarich Jefferson
Dokumentasi: Etnobiologi