Jumat, 6 Desember 2024, mahasiswa mata kuliah Ekowisata Universitas Padjadjaran (Unpad) melakukan kunjungan lapangan ke Kebun Raya Kuningan. Kunjungan ini didampingi oleh tiga dosen pengampu mata kuliah Ekowisata, yakni Dr. Teguh Husodo, M.Si., Dr. Indri Wulandari, S.Si., M.I.L, dan Nurullia Fitriani, S.Si., MT. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman langsung kepada mahasiswa mengenai konsep dan implementasi ekowisata, khususnya di kawasan konservasi dan kebun raya yang menjadi bagian penting dalam pelestarian alam serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Tujuan dan Sejarah Berdirinya Kebun Raya Kuningan
Kebun Raya Kuningan didirikan dengan tujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan HGU yang sebelumnya terlantar. Kebun ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat konservasi, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang memiliki nilai edukasi, serta peran dalam pemberdayaan masyarakat melalui desa wisata dan desa lingkungan. Kebun Raya Kuningan dikelola oleh Pemerintah Daerah Kuningan melalui Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan.
Sejarah pendirian Kebun Raya Kuningan berawal dari lahan HGU yang sebelumnya digunakan untuk perkebunan karet dan sereh wangi oleh masyarakat setempat. Pada tahun 2005, setelah Bupati Suganda dilantik, masalah lahan terlantar dilaporkan oleh pemdes dan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Kuningan kemudian mengajukan rencana pembuatan kebun raya yang disetujui oleh pemerintah pusat. Proses tukar guling lahan dan pengukuran tanah dilaksanakan pada tahun 2005 hingga 2010. Saat ini, luas Kebun Raya Kuningan mencapai 154 ha, dengan lebih dari 60% lahan telah digarap.

Proses Pembangunan dan Pengelolaan Kebun Raya Kuningan
Sejak 2005, Kebun Raya Kuningan mengalami berbagai tahapan dalam pembangunan dan pengelolaannya. Pada awalnya, kebun ini dikelola oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan, kemudian pada tahun 2016 pengelolaan dilimpahkan ke Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan. Salah satu fokus utama dalam pembangunan kebun ini adalah konservasi tumbuhan dan ekosistem yang ada di kawasan tersebut.
Kebun Raya Kuningan dibagi dalam beberapa zona yang memiliki fungsi berbeda, di antaranya zona konservasi, zona wisata, zona pendidikan, serta zona tematik yang mengkhususkan pada koleksi buah-buahan lokal seperti durian, mangga, dan duku. Kawasan ini juga mencakup zona bebatuan yang memiliki koleksi tanaman unik, serta taman kemuning yang menjadi ikon kebun raya ini, dengan koleksi tanaman berwarna kuning.
Keanekaragaman Tumbuhan di Kebun Raya Kuningan
Kebun Raya Kuningan memiliki koleksi keanekaragaman tumbuhan yang sangat beragam, baik dari spesies lokal maupun tumbuhan eksotis. Di antara tanaman yang ditemukan di kebun raya ini adalah Durio zibethinus (durian), bunga Kemuning, Melaluca bracteata, dan Tabebuya. Selain itu, terdapat pula koleksi tanaman dari Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Cibodas seperti Literocarpus, bisbul, dan Canarium indicum.
Kebun Raya Kuningan juga memiliki beberapa zona yang dikhususkan untuk jenis tanaman tertentu, seperti zona aromatik yang berisi tanaman seperti Kemang dan Eucalyptus, serta zona Palmae yang meliputi berbagai jenis pinang dan kelapa. Di sisi lain, zona bebatuan yang kaya akan tanaman lokal Nepenthes juga menunjukkan potensi kebun ini sebagai tempat konservasi tumbuhan endemik Gunung Ciremai.
Pengelolaan Kebun Raya Kuningan dan Tantangannya

Pengelolaan Kebun Raya Kuningan dilakukan dengan sistem yang terstruktur, termasuk pengayaan koleksi, perawatan tanaman, dan pemantauan pertumbuhan setiap spesies. Setiap enam bulan sekali, koleksi tanaman dievaluasi, dengan melakukan inventarisasi dan pengecekan kondisi tanaman. Sistem konservasi yang diterapkan mengacu pada peraturan daerah untuk menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati.
Namun, Kebun Raya Kuningan juga menghadapi berbagai tantangan, seperti penurunan jumlah pengunjung dan keterbatasan pendanaan. Akses jalan yang terbatas menjadi salah satu kendala utama dalam menarik lebih banyak wisatawan. Pada tahun 2022, jumlah pengunjung menurun drastis, dan kebun ini mencatatkan hanya sekitar 15 ribu pengunjung dewasa. Untuk itu, pihak pengelola telah merencanakan sejumlah langkah untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan menarik lebih banyak pengunjung, termasuk perbaikan infrastruktur dan pengembangan destinasi wisata berbasis ekowisata.
Peran Stakeholder dalam Pengembangan Kebun Raya Kuningan
Pentingnya peran berbagai pihak dalam pengembangan dan pengelolaan Kebun Raya Kuningan sangat ditekankan. Pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, memiliki kontribusi dalam penyediaan bibit koleksi dan bantuan untuk UMKM lokal yang berjualan di kawasan kebun raya. Selain itu, kerja sama dengan pihak swasta, seperti Sukopindo dan Jasa Raharja Putra, juga turut mendukung operasional kebun raya ini.
Pihak masyarakat lokal juga dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan kebun raya, terutama dalam kegiatan yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi lokal dan konservasi lingkungan. Salah satu contoh adalah kegiatan penanaman pohon di lahan kritis bersama masyarakat sekitar.
Harapan dan Rencana Masa Depan Kebun Raya Kuningan
Kebun Raya Kuningan terus berupaya untuk berkembang menjadi kawasan yang lebih produktif dan menarik sebagai destinasi ekowisata. Salah satu rencana jangka panjang yang sedang diusahakan adalah pembangunan bank biji dan pengembangan kebun petik. Dengan dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah, diharapkan Kebun Raya Kuningan dapat menjadi tempat yang lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan, sekaligus berperan penting dalam pelestarian keanekaragaman hayati dan pemberdayaan masyarakat.
Kunjungan lapangan ini memberi pengalaman berharga bagi mahasiswa Ekowisata Unpad untuk lebih memahami implementasi konsep ekowisata di lapangan, serta pentingnya konservasi dalam pengelolaan sumber daya alam. Melalui pengalaman ini, mahasiswa diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dalam pengelolaan kawasan konservasi dan ekowisata di masa depan.
Penulis: Thomas Argyarich Jefferson
Dokumentasi: Dosen & Mahasiswa Mata Kuliah Ekowisata