Jatinangor, 19 Mei 2026 – Kuliah umum sesi terakhir bersama Prof. Iwahashi Hitoshi membahas mengenai tantangan mikrobiologi dalam penerapan ilmu biosains di masa depan. Melalui kuliah umum ini, Prof. Iwahashi Hitoshi menyoroti fakta mikrobiologi dari pandangan ilmiah yang berbeda.
Mikroorganisme telah umum digunakan dari zaman Neanderthal untuk membuat produk fermentasi dan mensterilkan bakteri berbahaya. Pada era modern, mikroorganisme memiliki fungsi yang lebih luas, salah satunya berperan dalam melahirkan rekayasa genetika. Pemanfaatan mikroorganisme mulai meluas dengan adanya MinION sebagai teknologi pembaca gen. Namun, Prof. Iwahashi Hitoshi menekankan bahwa pemanfaatan mikroorganisme bukan solusi untuk segala masalah, karena kemampuan alaminya yang harus melewati proses tertentu sebelum digunakan di industri.
Dalam dunia medis, mikroorganisme menghasilkan banyak obat penting. Prof. Iwahashi Hitoshi menentang definisi antibiotik sama dengan metabolit sekunder, beliau menuturkan bahwa antibiotik merupakan kunci strategi hidup mikroba untuk terus tumbuh. Selain itu, mikroba menghasilkan imunosupresan untuk menekan penolakan organ pasca-transplantasi dan mengobati penyakit autoimun. Beberapa produk obat disebutkan oleh Prof. Iwahashi Hitoshi seperti obat anti-kanker dan anti-parasit.
Selain pembahasan mikroba dalam dunia medis secara umum, Prof. Iwahashi Hitoshi membagikan pengalaman penelitiannya mengenai virus, salah satunya adalah virus COVID-19. Banyak fakta yang jarang diketahui banyak orang terkait dengan virus COVID-19. Menurutnya, virus COVID-19 sangat mirip dengan virus SARS. Virus biasanya tidak dapat hidup sendiri dan hidup menempel pada cairan tubuh. Maka dari itu, penggunaan masker terbukti efektif untuk mencegah virus masuk, karena ukurannya yang jauh lebih besar dari 100 nm.
Tidak hanya dalam dunia medis, Prof. Iwahashi Hitoshi memberikan pandangannya mengenai fakta penting penelitian mikroorganisme. Pada pengolahan limbah dalam upaya menurunkan BOD (Biochemical Oxygen Demand), mikroba yang dikenal berperan untuk menghancurkan zat organik sebenarnya hanya menyerap zat organik dan mengubahnya menjadi tidak larut, lalu mengendapkannya sebagai lumpur aktif.
Dalam contoh penerapan lain, pada inovasi energi bahan bakar biofuel, produksi gas metana digunakan untuk mencegah gas rumah kaca lepas ke atmosfer, bukan untuk efisiensi pemanfaatan energi. Di samping itu, penggunaan bioetanol sebagai solusi ramah lingkungan diketahui tidak efisien karena prosesnya dapat menghasilkan limbah cair yang sangat banyak, 1 ton bioetanol setara dengan 10 ton limbah air yang dikeluarkan. Ditambah lagi, biaya pembersihan limbah air yang mahal sehingga berdampak pada harga jual bioetanol yang semakin meningkat. Hal tersebut membuat penerapan bioetanol bukan solusi efektif untuk lingkungan berkelanjutan.
Melalui empat sesi kuliah umum bersama Prof. Iwahashi Hitoshi ini diharapkan dapat memperluas cakrawala sivitas dalam mempelajari ilmu mikrobiologi yang luas dan nyata. Bagi generasi biologi muda diharapkan dapat menjadikan ilmu tersebut sebagai modal yang penting untuk menghadapi tantangan industri di masa depan agar tidak terpaku hanya pada textbook, tetapi harus dilandasi dengan berpikir kritis dan melek informasi. Terima kasih atas seluruh ilmu berharga yang diberikan Prof. Iwahashi Hitoshi. Semoga dengan adanya kegiatan ini dapat memperluas kolaborasi riset, baik secara formal maupun non-formal.
Penasaran dengan sesi kuliah umum dengan Prof. Iwahashi Hitoshi? Yuk, tonton video lengkapnya di kanal resmi @biologiunpad atau klik disini
Penulis: Nabiha Fatnunnisa