Siapa Itu Penyu Belimbing?
Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) dikenal sebagai penyu terbesar di dunia, dengan panjang tubuh mencapai 2,7 meter dan berat mencapai 900 kilogram—setara dengan berat sekitar 15 orang dewasa. Penyu belimbing dikenal sebagai perenang dan penyelam andal—mereka mampu menjelajah lebih dari 16.000 kilometer per tahun, bahkan menyelam hingga kedalaman hampir 4.000 meter. Makanan utama mereka adalah ubur-ubur. Dalam beberapa dekade terakhir, populasinya mengalami penurunan drastis akibat berbagai ancaman seperti hilangnya habitat bertelur, pencemaran laut, serta perubahan iklim. Oleh karena itu, IUCN mengklasifikasikan spesies ini dalam kategori “Terancam Punah” (Critically Endangered) (Piboon et al., 2025, NOAA Fisheries, 2025).
Morfologi
Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) memiliki panjang tubuh mencapai 2,7 meter dan berat mencapai 500 kilogram, menjadikannya salah satu reptil terbesar yang masih hidup di dunia saat ini. Tak seperti penyu lainnya, penyu belimbing tidak memiliki cangkang keras berbahan tulang. Sebagai gantinya, cangkang atas (karapaks) mereka dilapisi oleh kulit yang tebal dan lentur, yang membuatnya tampak seperti dilapisi kulit “kulit sintetis” alami (Chen et al., 2015).

Sumber: Frederique Lucas (https://marineanimals.ca/marine-animals/sea-turtles/)
Warna tubuh penyu ini berkisar dari hitam hingga biru kehitaman, dihiasi bintik-bintik putih dan merah muda di seluruh permukaan tubuhnya. Penyu belimbing juga merupakan satu-satunya spesies penyu laut yang tidak memiliki sisik. Cangkang atas (karapaks) mereka terbentuk dari tulang-tulang kecil di bawah kulit, yang menutupi lapisan lemak, jaringan ikat, dan rangka dalam. Cangkang ini memiliki tujuh tonjolan memanjang di sepanjang tubuh dan meruncing ke belakang, meskipun tidak tajam. Sirip depan penyu belimbing lebih panjang secara proporsional dibandingkan penyu lain, sedangkan sirip belakang berbentuk seperti dayung. Kombinasi antara karapaks yang kuat dan sirip besar inilah yang memungkinkan penyu belimbing berenang jauh dan efisien saat bermigrasi mencari makan (Piboon et al., 2025, NOAA Fisheries, 2025).
Pada penyu belimbing, tulang rusuk tidak menyatu dengan osteoderm seperti pada penyu dan kura-kura (Testudines) lainnya, sehingga karapaksnya lebih fleksibel. Struktur tubuhnya yang elastis dan dapat berubah bentuk memungkinkan penyesuaian terhadap tekanan tinggi di laut dalam (Chen et al., 2015).
Populasi, Persebaran, & Migrasi
Spesies ini telah menjelajahi lautan selama ratusan juta tahun dan memiliki sebaran geografis terluas di antara penyu laut, dengan tujuh subpopulasi di perairan tropis dan temperate di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia. Namun kini populasinya menurun drastis, hingga diklasifikasikan sebagai “Terancam Punah” (Critically Endangered) oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) (Piboon et al., 2025). Penyu belimbing dapat bermigrasi dengan tangguh. Beberapa di antaranya mampu menempuh jarak lebih dari 16.000 km per tahun dari tempat mencari makan ke tempat bertelur. Pemilihan habitatnya bersifat musiman: pada musim panas dan awal musim gugur, penyu ini lebih sering berada di wilayah beriklim sedang, lalu berpindah ke daerah subtropis dan tropis selama akhir musim gugur, musim dingin, dan musim semi (Piboon et al., 2025, NOAA Fisheries, 2025).
Kebiasaan & Diet
Penyu belimbing menghabiskan sebagian besar hidupnya di lautan, dan hanya betina yang sesekali naik ke darat untuk bertelur. Mereka mengonsumsi sekitar 73% dari berat tubuhnya setiap hari, dengan makanan utama berupa hewan lunak seperti ubur-ubur dan tunikata. Tidak seperti penyu lainnya yang memiliki paruh keras, penyu belimbing memiliki rahang tajam dan tonjolan seperti gigi yang khusus beradaptasi untuk memangsa hewan gelatinous. Untuk membantu menahan mangsanya, mereka memiliki papila keratin—duri-duri kecil yang mengarah ke belakang di tenggorokan dan kerongkongan (Piboon et al., 2025). Sebagai perenang ulung, penyu belimbing mampu menempuh jarak hingga 100 km per hari dan menyelam hingga kedalaman sekitar 1.200 meter, bahkan bertahan di bawah air selama 85 menit (NOAA Fisheries, 2025).
Reproduksi & Siklus Hidup
Penyu belimbing tumbuh cepat tahap awal kehidupan, mencapai rata-rata 32 cm per tahun. Namun, laju pertumbuhan melambat drastis pada penyu betina dewasa yang bertelur, yaitu hanya sekitar 0,2 cm per tahun (Piboon et al., 2025). Mereka dapat hidup hingga 90 tahun. Usia kematangan seksual penyu belimbing diperkirakan pada usia 12–14 tahun (Dutton et al., 2005), 13–14 tahun (Girondot et al., 2021), 16,1 tahun (Jones et al., 2011), hingga 24,5–29 tahun (Avens et al., 2009). Sementara itu, penyu belimbing yang hidup di penangkaran diketahui bisa matang secara seksual hanya dalam waktu 5 tahun (Girondot et al., 2021).
Penyu belimbing betina bertelur pada malam hari di pantai-pantai tropis dan subtropis. Mereka menggali lubang besar di pasir sebagai sarang untuk meletakkan telur. Proses bertelur ini meninggalkan jejak besar dan melingkar di area pantai. Penyu belimbing betina kembali bertelur setiap 2 hingga 4 tahun. Dalam satu musim, mereka bisa bertelur beberapa kali, dengan jarak antar siklus sekitar 8 hingga 12 hari. Penyu betina yang sedang mengandung biasanya meletakkan 3–10 kelompok telur dalam satu musim bertelur, dengan sekitar 60 telur per sarang (Piboon et al., 2025; NOAA Fisheries, 2025).
Ancaman

Sumber: WCU/Mongabay Indonesia
Penyu belimbing menghadapi berbagai ancaman serius yang mengancam kelangsungan hidupnya. Beberapa ancaman utama meliputi tertangkap secara tidak sengaja (bycatch) dalam alat tangkap ikan, kehilangan dan degradasi habitat pesisir, perburuan individu dewasa serta pengambilan telur, polusi laut dan sampah plastik, hingga dampak dari perubahan iklim. Kombinasi dari berbagai faktor ini menyebabkan populasi penyu belimbing terus menurun (Critically Endangered) (Piboon et al., 2025; NOAA Fisheries, 2025).
Referensi
Avens, L., Taylor, J. C., Goshe, L. R., Jones, T. T., & Hastings, M. (2009). Use of skeletochronological analysis to estimate the age of leatherback sea turtles (Dermochelys coriacea) in the western North Atlantic. Endangered Species Research, 8, 165–177. https://doi.org/10.3354/esr00102.
Chen, I. H., Yang, W., & Meyers, M. A. (2015). Leatherback sea turtle shell: A tough and flexible biological design. Acta Biomaterialia, 28, 2–12. https://doi.org/10.1016/j.actbio.2015.09.025.
Girondot, M., Mourrain, B., Chevallier, D., & Godfrey, M. H. (2021). Maturity of a giant: Age and size reaction norm for sexual maturity for Atlantic leatherback turtles. Marine Ecology, 42(3), e12631. https://doi.org/10.1111/maec.12631.
Jones, T. T., Hastings, M. D., Bostrom, B. L., Pauly, D., & Jones, D. R. (2011). Growth of captive leatherback turtles (Dermochelys coriacea), with inferences on growth in the wild: Implications for population decline and recovery. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology, 399(1), 84–92. https://doi.org/10.1016/j.jembe.2011.01.014.
NOAA Fisheries. (2025). Leatherback Turtle. [Online]. https://www.fisheries.noaa.gov/species/leatherback-turtle (diakses pada 16 Juni 2025).Piboon, P., Brown, J., Kaewmong, P., Kittiwattanawong, K., & Nganvongpanit, K. (2025). Biology, nesting behavior, genetic diversity, and conservation of leatherback sea turtles: Insights from Thailand and global perspectives. Ecology and Evolution, 15(2), e71014.
Penulis: Raturania Shahla Qitarah